Jalanan berlubang di sejumlah wilayah Banten
- account_circle Banten Reporter
- calendar_month 15 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar

Banten-Jalanan berlubang di sejumlah wilayah Banten kembali memakan korban. Di Flyover Ciputat, Tangerang Selatan, beberapa pengendara motor dilaporkan terjatuh saat melintasi lubang di tengah hujan. Di Jalan Ciledug Raya dekat Bates Kreo, kecelakaan berulang terjadi akibat aspal rusak yang tak kunjung diperbaiki. Bahkan di ruas Tol Tangerang–Merak, pengelola sempat menyampaikan permintaan maaf atas kondisi jalan berlubang yang disebut dipicu cuaca ekstrem dan beban kendaraan berat. Di wilayah Serang, kondisi serupa terlihat di Jalan Raya Kragilan–Cikande yang rusaknya dinilai membahayakan terutama pada malam hari dan saat hujan. Jalan Serang–Pandeglang tercatat memiliki banyak lubang dengan kedalaman antara 1 hingga 7 sentimeter. Di kawasan Lampu Merah Boru, Curug, jalan becek dan berlubang kerap menyebabkan kendaraan tergelincir. Sementara di Jalan Empat Lima, terdapat ratusan titik lubang, bahkan ada yang berdiameter hingga dua meter
Pandeglang pun tak luput. Akses Saketi–Pandeglang, khususnya di sekitar Pasar Saketi, mengalami kerusakan parah. Di pusat kota Pandeglang, sekitar alun-alun, jalan rusak dilaporkan memicu kecelakaan. Di kawasan perumahan seperti Citra Gading, Cipocok Jaya, hingga Kompleks Taman Pesona Sitauan, Taktakan, jalan rusak dan tergenang dikeluhkan warga karena tak kunjung diperbaiki. Masalah ini mungkin tampak teknis, seperti soal aspal dan drainase. Namun dalam perspektif politik, jalan berlubang adalah simbol paling nyata dari kualitas negara dalam memenuhi kontrak sosialnya dengan warga.
Dalam Teori John Locke, negara lahir dari kontrak sosial: warga menyerahkan sebagian haknya untuk memperoleh perlindungan dan jaminan keamanan. Infrastruktur dasar seperti jalan raya termasuk dalam kewajiban paling elementer tersebut. Jalan bukan hanya hamparan aspal. Ia adalah jalur distribusi ekonomi, akses pendidikan, dan konektivitas sosial. Ketika jalan rusak dibiarkan berbulan-bulan, yang terganggu bukan hanya kendaraan, tetapi hak warga untuk bergerak secara aman dan produktif. Lubang di jalan pada akhirnya menjadi metafora dari retaknya relasi antara pemerintah dan rakyatnya.
- Penulis: Banten Reporter





