Penandatanganan Tarif Dagang AS-Indonesia.
- account_circle Banten Reporter
- calendar_month 14 jam yang lalu
- visibility 12
- comment 0 komentar

Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membagikan kabar terbaru mengenai rencana implementasi tarif resiprokal antara Indonesia dengan Amerika Serikat (AS).
Rencananya, perjanjian tarif ini akan ditandatangani Presiden Prabowo Subianto dan Presiden (AS) Donald Trump saat menghadiri pertemuan Board of Peace (BoP) pekan depan, tepatnya pada 19 Februari 2026 nanti.
“Bapak Presiden rencananya akan menghadiri acara pada tanggal 19, dan di sekitar tanggal tersebut juga akan ada rencana penandatanganan ART, Agreement on Reciprocal Tariff,” kata Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (11/2/2026).
Airlangga mengatakan negosiasi telah berhasil mengubah tarif dari semula 32 persen menjadi 19 persen. Angka tersebut akan segera diteken oleh Kepala Negara Indonesia dan AS. Namun, hal tersebut masih menunggu perkembangan lanjutan.
“Kan kita sudah turun dari (tarif) 32% ke 19%, kemudian ada hal-hal lain yang juga akan kita tunggu sampai semuanya 100% selesai,” ucapnya.
Sebelumnya Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi sudah mengkonfirmasi bahwa Prabowo sudah menerima undangan rapat perdana Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian yang dibentuk Trump pada 19 Februari. Namun Prabowo belum memberikan kepastian apakah akan hadir pada agenda tersebut atau tidak.
“Belum, nanti kita sampaikan kalau sudah ada kepastian,” ujar Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (9/2/2026).
Meski begitu, Prasetyo menyatakan pemerintah berharap apabila Prabowo hadir dalam pertemuan itu. Sebab momen ini dapat sekaligus menjadi waktu pertemuan kedua pemimpin negara untuk melakukan penandatanganan tarif dagang AS-Indonesia.
“Kita sih menghendaki dan ingin bisa dua-duanya,” ujarnya ketika ditanya apakah undangan dari AS juga akan membicarakan soal negosiasi tarif.
Soal penetapan kesepakatan dagang dengan AS, Prasetyo bilang sejauh ini negosiasi memang sudah dilakukan. Hanya saja untuk bisa mempertemukan Prabowo dengan Donald Trump tak semudah itu dilakukan.
“Itu kan nampak sederhana gitu, tapi kan nggak sesederhana gitu juga untuk terjadi pertemuan antara dua pemimpin,” ujar Prasetyo.
- Penulis: Banten Reporter





